Okinawa

Kalau ke Jepang, yang kepikiran pertama kali pasti negara supersibuk yang kental dengan budayanya.  Ga pernah kepikiran di Jepang ada pantai, keren pulak!

Ke Jepang kemarin, saya menyempatkan diri mengunjungi temen saya yang tinggal di Okinawa.  Waktu itu sih, saya ga kebayang daerahnya kayak gimana, karena memang saya pure cuma mau ketemu temen, Continue reading Okinawa

Advertisements

Takayama

Ok, lanjutin cerita tentang perjalanan saya ke Jepang beberapa bulan lalu yaaaa..

Takayama adalah kota ketiga yang saya datangi di perjalanan kemarin.  Terletak di prefektur Gifu, bisa ditempuh dalam waktu 6 jam dari Tokyo, lewat Nagoya.  Pertama kali lihat fotonya di buku travelhemat Jepang yang saya beli, dan saya langsung jatuh cinta.  Old town dengan suasana khas Jepang yang sangat friendly untuk pejalan kaki seperti saya.

Karena ada peristiwa pesawat saya dari Sapporo di cancel dan saya harus re-schedule ke pesawat besok siangnya, maka saya baru sampai di Takayama sekitar jam 8 malam dan disambut hujan rintik-rintik.  Untungnya, saya memesan hotel yang terletak tepat di sebrang stasiun, namanya Country Hotel Takayama.  Continue reading Takayama

Tentang Kontributor Koper Kuning

Haloooo semuaaaa!!

Dolar lagi mahal? iya banget..karena itu, kegiatan koperkuning untuk jalan-jalan pun sedikit banyak mengalami pengurangan.  Karena bukan hanya dolar yang naiknya gila-gilaan, tapi juga kebutuhan primer yang dari bulan ke bulan kok yaa makin naik juga.

Ngeluh? tentu ngga dong..jaman susah gini, menuntut kita untuk jadi lebih kreatif dan ngerjain apa aja yang bisa dikerjain (asalkan halal tentunya).  Hal ini pun berlaku buat saya, sekarang saya mulai kerja lagi di sebuah kantor kreatif, dan karena sekarang saya sudah jadi karyawan, maka saya mungkin tidak bisa menulis sesering dulu lagi.

Tapi, jangan khawatir.  Saya punya seorang kontributor yang kadang suka nulis juga pengalaman dia jalan-jalan, yang sebagian besar dilakukan bersama saya 🙂 Saya akan memuat tulisan-tulisannya di blog ini dengan kategori “from kontributor”.  Jadi, silakan menikmati tulisannya yaaaa..

Review – Taman Suropati

Kali ini koper kuning menyempatkan diri pergi ke sebuah taman umum di Ibukota Jakarta ini.

Dari data survey internal Koper Kuning dengan metode ngasal asalan didapatkan bahwa 11 dari 10 orang yang tidak pernah meluangkan waktu di luar mall berkata bahwa “taman di Jakarta kan menjijikan, nyamukan, dan abang/mbak banget. Cih, dia gk tau koper kuning ini suka dipanggil mas sama abang *koek panjang.. cuih*

Tersinggung dan gamang.. Koper kuning pergi bersama kontributor penulis artikel ini untuk melakukan survey langsung ke lapangan *literally*.. Blusukan lah pokoknya kalo kata Pak Joko.. Kalo kata Bu Joko “pake termos es aja” *yang ngerti jangan meratapi umur ya..*
Ternyata dalam perjalanan, ketika melewati Masjid Sunda Kelapa, hal yang tidak terduga terjadi! Koper kuning laper mata !! Langsung, mobil diarahkan ke tempat parkir di sebelah runutan PKL yang rame disatroni warga *konsumen mau makan maksudnya*
Akhirnya, setelah mangambil posisi yang dipercaya menentukan prestasi.. Napsu mengambil alih akal sehat.. Genggaman semakin erat dikepalkan.. Lalu dengan penuh napsu Koper kuning mengacungkan 2 jari untuk memesan dimsum, es kelapa, dan beberapa makanan lainnya yang katanya sih buat cemilan di Taman Suropati nanti.. Koper kuning pun berhasil menjalankan program “bagi hasil” di Masjid Sunda Kelapa ini.. Semua PKL kebagian order deh.. *Koper kuning for president?*
Karena Taman Suropati hanya berjarak satu blok dari Masjid Sunda Kelapa, akhirnya Koper kuning memutuskan untuk jalan kaki kesana sambil menjinjing kresek makanan..
Menyusuri rumah pejabat negara (katanya sih rumah dinas Pak JK), lalu nyebrang jalanan dan ketika menoleh ke kanan langsung disambut sama patung Pangeran Diponegoro yang lagi naik kuda dengan hamparan tanaman yang baru aja di upgrade. Langsung bikin Koper Kuning menghirup napas sambil menikmati udara Jakarta yang sedang berawan hari itu..
Sambil menunggu lampu merah berubah hijau untuk menyebrang, toleh toleh ke kiri, sebrang Patung Pangeran Diponegoro, ternyata ada gereja. Yang keren adalah di atap ujung nya gereja ini ada penunjuk angin berbentuk ayam seperti di film-film horror.
Setelah lampu berubah hijau, kaki melangkah mendekati Taman Suropati dan officially Koper kuning tiba dan disambut oleh rumput gajah *pamer dikit lulusan IPB*. Taman tidak terlalu rame karena masih agak siang kali ya.. Keliling-keliling sebentar untuk cari tempat untuk menikmati makan siang, akhirnya pilih duduk di rumput di bawah pohon rindang yang menghalangi dari sinar matahari langsung.
Proses menghilangkan lapar dan dahaga berjalan pelan nan santai.. Bisa jadi ini the best venue makan siang Koper kuning sepanjang 2015. It was such a perfect day! Just a hint of sunshine peeking through.. Jujur aja makanannya sih biasa aja, tapi the atmo and venue make up for it. Seudah beres-beres bekas makanan, Koper kuning jalan-jalan keliling taman di jantung Menteng ini.
Setelah keliling-keliling, Koper Kuning bisa mengerti kenapa Taman Suropati ini berbeda dengan taman lainnya. Fasilitas di taman ini cukup unik dan beragam, cocok untuk segala umur dan kegiatan. Dari pacaran, latihan musik, sampe berbagai macem aktifitas “aneh” lainnya. Pada saat Koper Kuning main ke taman itu, ada sekumpulan anak muda yang sedang latihan yoyo, banyak yang berdua-duaan sambil berkuliner, latihan akrobat botol ala bartender, dll. Setelah keringetan jalan-jalan di Taman Suropati ini, kebetulan ada beberapa PKL yang jualan. Beli deh aqua, tapi yang menyenangkan adalah taman ini bersih!
Lanjut jalan dan jam sudah menunjukkan waktunya untuk dessert! *harap maklum jam Koper Kuning memang mengacu pada aktifitas perut* Sambil order kue cubit setengah mateng andalan untuk dessert, ada guguk jenis welsh corgi yang melintas.. Langsung aja Koper Kuning nyapa sama yang punya untuk izin puk-puk guguk nya. Dengan ramah dibolehkan sama ownernya, puas deh uwel-uwel si “Ferrari”.
Pak Kue Cubit manggil udah jadi, “hi-goodbye” ke si guguk dan yang punya dan ambil posisi lagi. Koper Kuning menyimpulkan bahwa pergi ke taman memang seharusnya jadi kegiatan rutin orang Jakarta. Karena terkadang, kita warga Jakarta ini terlalu individualis bahkan terkesan tidak perduli terhadap sesama. Jadi spend time di taman bisa raise our empathy to other because we simply interact with fellow Jakartans.
Artikel Taman Suropati yang direncakan pendek dan kecil ini ternyata memanjang.. Karena memang there are a lot to be said about this park. There is a jogging track, path batu untuk refleksi kaki, platform untuk latihan musik, air mancur, rumah burung merpati, and many others.
Sebelum angkat kaki, HP bunyi dan harus segera kirim email untuk menyelesaikan pekerjaan *Sabtu koq kerja? Ya udah gk usah dibahas ya. HIH!* Keluarin laptop dan ternyata modem gk ada.. Doeng gimana dong.. Dengan sepenuh iman menyalakan wifi dan *tadaaaaaa* ada wifi gratis persembahan WIFI.ID nya Telkom.
Dengan senyum selebar mentari, Koper Kuning menutup laptopnya. Beresin tas dan berjalan kembali ke Masjid Sunda Kelapa dimana mobil di parkir. Perjalanan hari ini benar-benar menyenangkan!
Lengkap sudah, ketemu deh surga nya Jakarta..
Kode dari sponsor *kedip*
Yang di jalan, hati-hati..
Yang di hati, kapan jalan-jalan?
Pros:
+ Tersedia makanan lengkap satu blok jauhnya di Masjid Sunda Kelapa
+ PKL di Taman Suropati jualan jajanan untuk ngemil-ngemil lucu
+ Berbagai macam kegiatan dan fasilitas
+ Aman, ada pos polisi persis di ujung taman
+ Orang-orang nya ramah dan beraktivitas macam-macam
+ WIFI
Cons:
– Kalo malam agak nyamukan dan gelap
– Parkir agak susah
– Makanan standar aja
– Gk ada colokan
Conclusion:
Kalo mau leye-leye gk jelas dan gk tau mau ngapain dan kemana.
Taman ini cocok untuk bermalas-malasan gk jelas juntrungan
Highly recomended !
Share this if you like it and fill in the comments below..
See you guys on another review of Koper Kuning.

Noboribetsu

Sebelumnya, saya belum pernah dengar tentang Noboribetsu.  Tapi ketika saya googling tentang “best onsen in Hokkaido”, maka Noboribetsu ini yang paling sering keluar.  Ternyata, Noboribetsu adalah kota kecil dengan banyak sekali onsen dan spa bertebaran.  Ketika saya sampai disana, suasananya itu gloomy karena hujan rintik-rintik dan udaranya dingiiiiinnn banget. Emang cocok deh buat onsen-an. Continue reading Noboribetsu

Sapporo

How to Get There (dari Tokyo)

Perjalanan ke Sapporo, Hokkaido membutuhkan waktu 9 jam dari Tokyo dan ganti-ganti 3x naik kereta. Pertama, dari Tokyo ke Shin Aomori, trus Shin Aomori ke Hakadote, dan terakhir dari Hakadote ke Sapporo. Yang bikin jiper, jarak waktu antara satu kereta ke kereta lainnya itu cuma 8 menit. Bayangin aja, bawa-bawa koper, turun kereta, keluar platform, dan pindah ke platform kereta berikutnya cuma dengan waktu 8 menit! Waktu itu di pikiran saya, gimana kalo kereta saya ini delayed, pasti kan ntar ga bisa ngejer kereta berikutnya. Atau saya kan ga familiar dengan stasiunnya, gimana kalo saya cari-cari platform dan itu lebih dari 8 menit. Kalo sampe ketinggalan kereta berikutnya, buyar deh rencana, karena berarti saya harus nginep di salah satu kota persinggahan sebelum Sapporo tersebut. Ketika saya nanya ke Mba tempat saya beli tiket, jawaban Mba-nya juga ga bikin saya tenang. Katanya “jangan khawatir, Japanese people cuma butuh waktu paling lama 5 menit kok buat pindah platrform” errrhhh..tapikan saya bukan Japanese peooopleeee *nangis di pojokan*

Oiya, waktu itu saya pakai JR Pass, jadi semua perjalanan saya naik kereta ini tercover biayanya dengan itu. Continue reading Sapporo

Jepang – dari Utara ke Selatan

Bulan Juni ini saya dikasih kesempatan untuk ke Jepang lagi. Agak dadakan memang, karena diajaknya baru 2 bulan sebelumnya.  Alhamdulillah dapet tiket muraaahh bgt..berapa coba tebak? hehhehe..1,8 juta PP dari KualaLumpur belum termasuk bagasi.  Untuk ukuran beli tiket dadakan, termasuk murah banget kaaan?  (PS :  boleh lho add LINE nya koperkuning, supaya nanti kalo ada promo lagi bisa saya bantu bookingin).  Tapi, karena kelamaan mikir, tanggal saya pulang sudah ga tersedia harga promo.  Jadilah saya pulangnya lama banget..hehhee..12 hari di Jepang, dan ga mau saya sia-siain.  Saya harus keliling-keliling walopun bokek berat *halah

Singkat cerita, berangkatlah saya ke Jepang berbekal itinerary seadanya (baru mutusin mau ke Takayama dan Sapporo), JR Pass, dan buku Lonely Planet.  Saya inget banget, saya memutuskan untuk beli JR Pass baru seminggu sebelum berangkat.  Karena waktu itu saya masi galau, ke Sapporo nya naik pesawat atau kereta, secara perjalanan keretanya 9 jam aja dooong..hehhee..Tapiii, karena alasan harus berhemat, saya memutuskan untuk naik kereta aja deh, toh keretanya nyaman dan cemilannya lucu-lucu *penting* Continue reading Jepang – dari Utara ke Selatan