Wakatobi

Ga pernah kebayang sebelumnya, kalo saya bisa pergi ke Wakatobi..gimana ngga, saya bukan diver yang hafal tempat-tempat diving yang keren..saya suka pantai, tapi pengetahuan saya tentang pantai di Indonesia ya cuma itu-itu aja..

Ketika diajak ke Wakatobi, sayapun langsung meng-iyakan..menurut saya, Wakatobi termasuk ke dalam kategori tempat yang ga mungkin saya kunjungin sendirian, jadi mumpung ada temennya..Ternyata nama Wakatobi merupakan singkatan dari pulau-pulau disana..Wangiwangi – Kaledupa – Tomia – Binongko.  Karena waktu kami yang terbatas dan perjalanan antar pulau menggunakan kapal kayu cukup memakan waktu, maka kami memutuskan untuk pergi ke Pulau WaKaTo, tidak ke Binongko

Persiapan pergi ke Wakatobi tidak semudah perkiraan saya.  Gimana ngga, penerbangan yang langsung kesana sangat terbatas.  Kami menggunakan penerbangan Express Air untuk menuju Wangiwangi (transit Makassar), dan melanjutkan penerbangan ke Wangiwangi menggunakan pesawat baling-baling berkapasitas sekitar 20 orang.  Sementara pulangnya, dari Wangiwangi  menggunakan maskapai yang sama ke Makassar dan dilanjutkan dengan Sriwijaya Air menuju Jakarta..Sebenarnya Express Air mempunyai jadwal penerbangan dari Wangiwangi ke Jakarta, namun hanya beberapa kali seminggu, dan tidak sesuai dengan jadwal kepulangan kami.
Oiya, karena sistemnya yang belum online, untuk penerbangan pulang saya harus menghubungi Express Air di Wangiwangi untuk melakukan pemesanan.  Hal ini sangat tergantung sinyal disana, karena alat komunikasi yang digunakan adalah telepon genggam.

Harga tiket yang saya dapatkan waktu itu untuk pergi ke sana 1.999ribu (Jakarta – Wangiwangi), sementara untuk pulangnya 1.699 ribu (Wangiwangi – Makassar) dan 599 ribu (Makassar – Jakarta).

Berikut ini adalah itinerary saya selama disana :

Hari I :

Tiba di Wangiwangi, menginap di Patuno Resort.  Diving (biaya diving jika Anda sudah license : 350ribu dan 450ribu jika belum, sudah termasuk sewa peralatan dan baju).  Malamnya mengunjungi pasar malam di Wangiwangi

Hari II  :

Mengunjungi air dalam goa, siang berangkat ke Tomia menggunakan kapal kayu selama 3 jam perjalanan.  Tiba di Tomia, menginap di Tomia Dive Centre.  Diving lagi di 2 spot (Marimakbuk dan satu lagi saya lupa namanya).  Untuk spot diving di Tomia, bisa googling.

Hari III :

Pagi, mengunjungi Puncak Kahyangang, lokasi syuting Mirror Never Lies.  Siangnya berangkat ke Wangi-wangi lagi untuk bertemu dengan rombongan lain.  Berangkat ke Kaledupa.  Menginap di salah satu rumah penduduk (di atas air).

Hari IV :

Berkeliling Kaledupa dan Hoga Island (snorkeling dan diving).  Berkunjung ke desa terapung Suku Bajo.  Kembali ke Wangiwangi karena keesokan harinya penerbangan pagi hari ke Makassar.

Hari V :

Kembali ke Jakarta melalui Makassar.  Menyempatkan diri ke Trans Studio karena waktu transit yang cukup lama (sekitar 5 jam).

 

Suasana :

Cuaca di Wakatobi sangat panas.  Jangan lupa untuk selalu membawa sun block kemana-mana dan mengulang -ulang pemakaian sesering mungkin untuk menghindari kulit terbakar.  Ketika berkunjung ke suku Bajo, bisa juga membeli bedak dingin untuk digunakan di wajah  Cukup efektif untuk melindungi wajah dari sengatan matahari.

Untuk siang hari, gunakan pakaian yang menyerap keringat dan pada malam hari siapkan pakaian yang bisa melindungi tubuh dari angin laut.  Jika sudah punya pakaian diving sendiri, jangan lupa dibawa.  karena mungkin disana agak sulit untuk mencari ukuran baju dan kaki katak yang sesuai dengan kita.  Kaki katak yang paling kecil, masih terlalu besar untuk kaki saya yang berukuran 37.

pemandangan depan kamar, Patuno Resort sejauh mata memandang air dalam goa Kapal yang akan mengantar ke Tomia menjelang senja Lumba-lumba di pagi hari kayak di Phuket yaaa.. sunset cumi-cumi hasil melaut menu serba laut.. air..air..dan air.. Kamar di Patuno Resort airnya beniiing diving Puncak Khayangan Rombongaaannn Foto dengan Suku Bajo Langitnyaaaa

 

 

Advertisements

Winter in Seoul

Kesempatan pergi ke Seoul datang ketika saya tidak sengaja membuka FB salah seorang teman SMP saya..Nani namanya..ternyata Nani sedang menyelesaikan S2-nya di Ewha Woman University, Seoul, karena mendapatkan beasiswa. Langsung saja saya bilang kalo saya mau berkunjung kesana, boleh numpang nginep ga..hehehhe..dan ternyata katanya boleh, asal kesananya pas liburan akhir tahun..ketika teman sekamarnya pulang ke negaranya.

Singkat cerita, akhirnya saya mengurus visa dengan dibantu oleh teman saya yang kerja di travel agent..heheheh deg-degan dan sempet ribet banget karena itu pengalaman pertama saya membuat visa. Ketika visa approved, barulah saya membeli tiket dan membuat itinerary berdasarkan rekomendasi dari internet. Oiya, karena mengurus tiket travel agent, saya bisa minta tolong teman saya untuk menyiapkan bookingan tiket PP dan hotel selama di Seoul. Waktu itu saya khawatir visa saya ga approved, jadi belum berani untuk beli tiket pesawat dll.

Setelah berdiskusi dengan Nani, saya akan berangkat ke Seoul pada tanggal 14 Desember – 24 Desember 2009. Waktu yang pas dengan liburan perkuliahan, sehingga Nani bisa menemani saya jalan-jalan selama disana.

Itinerary :
Berikut ini adalah itinerary saya selama di Seoul :

  • Hari pertama :  Mendarat di Seoul, taruh barang-barang, cari makan di sekitar penginapan, malam ke HanGang River (bisa cobain cruise kalau cuaca memungkinkan)
  • Hari kedua
    City tour : Gyeongbokgung Palace dan sekitarnya
    Makan siang di dekat Kedubes RI di Seoul
    Lanjut city tour
  • Hari ketiga
    Nami Island (lokasi syuting Winter Sonata)
  • Hari keempat
    Belanja dan cari oleh-oleh ke Myeongdong, Namdaemun dan Dongdaemun Market
    Namsan Tower
  • Hari kelima
    Everland
  • Hari keenam
    Olympic Stadium
  • Hari ketujuh
    Korean Folk Village
  • Hari kedelapan
    Night market di sekitar penginapan (Ewha Woman University)

Suasana :
Ketika saya pulang ke Jakarta, banyak yang nanya, “Korea kayak di film-film gitu ga” hehehhe..saya jarang nonton film Korea..jadi kurang tau sama apa ngga..yang jelas, jalan-jalan di Seoul berasa romantiiiisss…mungkin karena waktu itu musim dingin ya..cowo-cowoknya pada pake coat panjang dengan tas tenteng..gaya-gaya, tapi jarang yang cakep..hehhe..

Kalau ada yang kesana pas musim dingin, siap-siap long john dan baju tebal berlapis-lapis. Musim dingin di Seoul bisa sampe minus 18 derajat dengan angin yang cukup kencang menusuk tulang. Ketika salju turun, malah tidak terlalu dingin karena anginnya cenderung ga ada.

Makanan :
Kalau mau jalan-jalan kesana, selain makanannya enak-enak, cobain juga jajanan pinggir jalan yang kayak sate gitu..sama nasi kepalnya..ini makanan favorit saya selama di sana..Nasi kepalnya ada isi dengan macam-macam pilihan..ada tuna pedas, ayam, daging, dll..Waktu itu sih toko nya ada pas di depan Ewha Woman University sebrang pintu masuknya, sebelah kanan..

Makan di Seoul, rata-rata sekitar 5ribu – 10ribu Won..tapi bisa dibagi 2 karena porsinya banyak..belum lagi makanan pembukanya juga macam-macam dan air putih sepuasnya, gratiiisss…saya pernah bungkus makanan pembuka karena ada ubi madu gitu..enak deh..dan lumayan buat makan pagi..hehhe

Belanja :
Jalan-jalan di pertokoan di Seoul, berasa pingin ngerubah isi lemari..hehhe..pakaian dan pernak pernik yang dijual lucu-lucu dengan warna-warna khas Korea. Harga yang ditawarkan pun relatif lebih murah dibandingkan di Jakarta. Pokoknya yang gila belanja dan fashion, belanja ke Seoul deh.

Untuk yang suka make up, Seoul juga tempat yang sangat menjanjikan. Beberapa brand terkenal, dijual murah disini, dengan kemasan dan warna yang lebih menarik. F*ce Shop misalnya, banyak ditemuin di toko-toko pinggir jalan yang produknya disesuaikan dengan musim saat itu.

Begitulah kesan saya mengenai Seoul. Saya yang tadinya ga terlalu sering nonton dan ga terlalu suka sama apapun berbau Korea, jadi bisa ngerti kenapa banyak banget yang tergila-gila dan pingin banget ke sana ☺

Suasana di Nami Island Nami Island Foto-foto Winter Sonata Pintu masuk Nami Island Ski buatan di Korean Folk Village Nasi kepal andalan Rute bis Blitz Megaplex-nya Korea Air-nya jadi es Olympic Park Menu makan siang Menu makan siang lagi Namsan Tower Kuil di Myeongbokgung Palace Myeongbokgung Palace Kamar di Ewha Woman University Incheon Airport

Mimpi

Ternyata, keinginan saya untuk jalan-jalan itu sudah mulai tumbuh sejak saya SD..Beberapa waktu yang lalu, kakak saya menemukan surat yang saya tulis untuk dia ketika saya masih SD. Jujur aja, saya sudah lupa dengan surat itu..Dengan bahasa Inggris yang sangat ngaco, saya membuat sebuah puisi yang isinya “kalau saya sudah besar, saya ingin keliling dunia..ke New York..ke Jepang..ke Paris..dan saya akan ajak keluarga saya untuk jalan-jalan sama saya”

Pas baca puisi itu, saya hampir menangis..bukan apa-apa..saya ga pernah menyangka bahwa apa yang saya tulis di situ hampir seluruhnya sudah jadi kenyataan..Dua negara yang saya tulis di situ, sudah pernah saya datangi..siapa yang menyangka? Ketika menulis puisi itu, bahkan ke Jakarta pun saya belum pernah..

Mulai saat itu, saya ga pernah takut untuk punya mimpi. Yuk bermimpi setinggi mungkin, biar hidup kita jadi lebih hidup..kalo ngambil kutipan dari Alchemist mah katanya “it’s the possibility of having a dream come true that makes life interesting” ☺